Rahajeng Rahina Galungan lan Kuningan

Om Swastiastu,

Apa kabar sahabat pembaca?

Semoga saya jumpai sahabat semua dalam keadaan sehat dan tak lupa saya ucapkan Selamat hari raya Galungan dan Kuningan kepada seluruh Sahabat se-Dharma.

Dalam menyambut hari Raya Galungan dan Kuningan ini, saya ingin berbagi sebuah artikel yang sangat menarik yang saya kutipkan dari sebuah buku yang disusun oleh Jro Mangku Gde Ketut Soebandi yang berjudul Pandita Sakti Wawu Rawuh.

Semoga menginspirasikan kita untuk selalu mengingat ke-Maha Kuasa-an Tuhan serta menjaga dan memelihara segala apa yang telah dilimpahkan kepada kita sebagaimana makna hari suci Galungan dan Kuningan sebagai wujud bhakti dan puji syukur atas segala karunia Sang Hyang Widhi.

Sebagai awal kisah ini, dahulu kala pada jaman bahari, ketika belum ada apa - apa dan keadaannya kosong, belum ada matahari, bulan, bintang dan dunia, hanya terdapat Sang Hyang Embang Yang Maha Tunggal, Maha Besar namun juga Maha Kecil, gaib dan belum ada manusia. Pada masa itu tidak ada sifat ragu ragu, segalanya bersifat sempurna, suci, tidak lain ialah Dewa Yang Tunggal, disebut Sang Hyang Maha Tunggal. Tidak berbentuk, tidak terdapat rasa kasih sayang, dan tidak dikenal tentang asal usul, ada dimana mana serta setiap saat bisa berhenti dan tidak bergerak, Disebut Widhi Tattwa atau Purana Dewa Tattwa, dan apabila dilukiskan dengan aksara (huruf) yang utama, disebut Windhu yaitu kosong, berwujud Sang Hyang Windhu, suaranya seperti telinga ditutup. Sedang Windhu berarti Kawi ialah Sang Hyang Kawi, Windhu yang bermakna kosong, akan tetapi kosong yang penuh, dan ada dimana mana serta setiap saat, tidak berujung dan berpangkal, tanpa asal mula dan tidak ada batasnya, berada di tempat sunyi dan suci, disebut Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa). Mempunyai sifat serba maha yakni Maha Tahu, Maha Penyayang, Maha Pengasih, Maha Pemurah, Maha Adil dan lain-lainnya, kemudian beliau mengadakan Yogha Semadhi.

Tidak dikisahkan mengenai yogha semadhinya, kemudian lahirlah dari yogha semadhinya itu yang disebut Sang Hyang Licin juga disebut Sang Hyang Eka Aksara, yaitu Ongkara. Selanjutnya Sang Hyang Eka Aksara melakukan yoga semadhi, lalu lahir Sang Purusa Pradhana (Positif dan Negatif), yang disebut Sang Hyang Akasa dan Prathiwi atau yang disebut pula rwa bhinedha (baik buruk atau suka duka) atau Sang Hyang Dwi Aksara yaitu Ang, Ah.

Kemudian Sang Yang Purusa Pradhana melakukan Yoga Semadhi, seterusnya lahir Sang Hyang Tri Purusa, yang disebut Sang Hyang Siwa, Sadha Siwa dan Parama Siwa, atau yang disebut Sang Hyang Tri Purusa yaitu Ang, Ung, Mang. Seterusnya Sang Hyang Tri Purusa juga melakukan Yoga Semadhi dan dari yogha Semadhinya ini, lahir Sang Hyang Catur Purusa, yang disebut Sang Hyang Catur Purusa juga disebut Sang Hyang Catur Windhu Dewa. Mereka itu adalah: yang sulung disebut Sang Hyang Amurwwa Akasa Sakti, yang kedua disebut Sang Hyang Sakti Saptakadwa, yang ketiga disebut Sang Hyang Suryya Rsiwu, dan yang bungsu disebut Sang Hyang Guru Pasupathi. Demikianlah kisahnya pada jaman bahari.

Dikisahkan, tatkala ada seorang sakti luar biasa dan tidak ada bandingannya, tidak bertempat tinggal, amat seram dan mengerikan wajahnya, bertaring tajam dan lancip, sifatnya hampir seperti raksasa yakni loba, tamak, rakus dan pemarah, makannya serba banyak, ia selalu menimbulkan keonaran dan keresahan, akhirnya ia kembali ke akhirat. Sesudah itu dititahkan oleh Yang Maha Pencipta menjelma ke dunia fana ini sepasang laki perempuan (ardhanareswari), setelah dibersihkan (disucikan) lalu dimasukkan ke dalam buah kelapa, dipuja dan kemudian diberi wedha serta dalam keadaan suci, diwujudkan seperti pertapa di pertengahan Gunung Agung. Di sana ia melakukan tapa dengan memuja Sang Hyang atau Bhatara Hyang Pasupathi agar segera turun ke pulau Bali, untuk menjadi junjungan dan pujaan di Bali.

Bali Pada Jaman Bahari
Bagaimana keadaaan Pulau Bali di jaman itu? Disebutkan bahwa pada jaman bahari Pulau Bali dan Lombok dalam keadaan labil, masih sunyi senyap, seolah olah mengambang di tengah lautan yang luas, ibarat sebuah perahu tanpa pengemudi, oleng ke sana kemari tidak tentu arahnya. Keadaan Pulau Bali dan Lombok sangat labil dan selalu bergoyang, dan kedua pulau ini kadang kala rapat menjadi satu, akan tetapi lebih sering terpisah. Keadaan ini mendapat perhatian serius dari Batara Hyang Pasupathi, dan beliau sangat iba hati dan kasihan melihat pulau Bali dan Lombok dalam keadaan labil dan terus bergoyang ini. Oleh Batara Hyang Pasupati dirinci, bahwa di Bali ketika itu baru ada 4 buah gunung, masing-masing disebelah timur Gunung Lempuyang, disebelah selatan Gunung Andakasa, disebelah barat Gunung Batukaru, dan di sebelah Selatan Gunung Beratan. Untuk menstabilkan pulau Bali dan Lombok ini, Batara Hyang Pasupati memotong puncak Gunung Semeru di Jawa Timur kemudian dibawa ke Bali dan Lombok.

Oleh Bhatara Hyang Pasupati, Sang Bhadawangnala dititahkan menjadi dasar bumi, Sang Ananthaboga dan Sang Naga Bhasukih sebagai sebagai pengikatnya, dan Sang Naga Taksaka ditugaskan menerbangkan potongan Gunung Semeru tersebut, ada bagian bagian yang tercecer, yang rembak tercecer menjadi Gunung Lebah (Gunung Batur), sedang bagian terbesar menjadi Gunung Tohlangkir (Gunung Agung). Sejak itu di Pulau Bali terdapat Sad Pralinggagiri (6 buah gunung). Potongan Gunung Semeru itu dibawa ke Bali, pada hari Kamis Umanis, wara Merakih, panglong ping 15, sasih Karo, tanggek 1, rah 1, candra sangkala eka tang bhumi yakni tahun saka 11 (bulan Agustus 89). Kemudian sesudah 70 tahun lamanya, pada hari Jumat Kliwon, wara Tolu, sasih kelima, pananggal 5, rah tanggek 13 (bulan November) turun hujan yang sangat lebat, disertai gempa bumi hebat selama 2 tahun. Ini terjadi pada tahun Saka 113 (tahun 191 M). Ketika Gunung Agung tersebut meletus, tiba tiba muncul di Besakih Bhatara Hyang Putrajaya, bersama adiknya Bhatara Hyang Mahadesa dan Bhatari Hyang Dewi Dhanuh. Bhatari Hyang Dewi Dhanuh berparahyangan (bertempat tinggal) di hulun danu atau Gunung Batur, sedang Bhatara Hyang Gnijaya berparahyangan di Puncak Lempuyang. Selanjutnya beliau bertiga disebut Bathara Hyang Tri Purusa.
Tatkala akan berangkat ke Bali, Bhatara Hyang Pasupati bersabda kepada bhatara Hyang Tri Purusa: “Kamu Mahadesa, Dhanuh dan Gnijaya, aku perintahkan kamu segera berangkat ke Bali, agar menjadi tenang keadaan di Pulau Bali, dan disana kamu menjadi junjungan nanti.”
Mendapat perintah demikian, lalu Bhatara Hyang Tri Purusa segera bersiap berangkat. Akan tetapi sebelum berangkat beliau matur terlebih dahulu kepada Bhatara Hyang Pasupathi:”Ya, Hyang Bhatara, oleh karena kami putera Hyang Bhatara masih anak-anak (masih kecil), belum tahu jalan yang harus dilalui, tunjukkanlah jalan itu.” Lalu dijawab oleh Bhatara Hyang Pasupati. Sabda Beliau: “Anakku bertiga, jangan susah hati, akan kutunjukkan jalan, sebab kamu adalah anakku, dan berdoalah supaya kamu segera tiba di Bali untuk dipuja di sana.”

Sesudah itu dimasukkannya Batara Hyang Tri Purusa ke dalam buah kelapa gading oleh Batara Hyang Pasupati. Setelah dimasukkan lalu diberkati oleh Batara berdasarkan ketinggian bathinnya, selanjutnya Batara Hyang Tri Purusa berangkat melalui dasar laut.

Disebutkan pula bahwa ada perintah Sang Hyang Parameswara yang tidak lain ialah Batara Hyang Pasupati, kepada putra putranya, terutama kepada Sang Hyang Gnijaya Sakti atau Batara Hyang Gnijaya. Perintah itu mengatakan:
“Wahai anakku sekalian, mau kuperintahkan pergi ke Bali, agar menjadi tentram pulau Bali, dan agar kamu menjadi penguasa dan junjungan rakyat disana. Untuk tempat tinggal boleh kamu memilih gunung sebagai tempat tinggalmu, dan disana supaya kamu membuat Kahyangan, sebab sekarang di Bali ada beberapa buah gunung. Adanya gunung tersebut tidak lain berkat yoghaku dahulu, dengan membawa gunung gunung itu dari India. Gunung yang bernama Mahameru aku potong dipertengahannya sampai ke puncknya, lalu aku bawa dan tempatkan di pulau Bali, dan setibanya aku pecah - pecah menjadi beberapa bagian besar kecil, sesudah aku letakkan semuanya seperti gundukan gundukan, kemudian menjadi gunung yang terdapat di pegunungan, akibatnya pulau Bali menjadi tenang dan tidak bergoyang lagi.”
Di sana akan kamu jumpai nanti gunung terbesar yang disebut gunung Agung, terletak dibagian timur laut Pulau Bali, diibaratkan gunung tersebut sebagai gunung emas berpuncak manik, berdasarkan ratna winten, berbatu mirah, berpasir padi, itulah bejas puncaknya mahameru. Potongan Gunung Mahameru tersebut dahulunya aku bagi menjadi tiga bagian, yang sebagian menjadi Gunung Batur (Gunung Lebah) sebagai dapurnya hyang gni (kawah berapi) pada bagian bawahnya. Bagian bawah dari potongan Gunung Mahameru tersebut aku jadikan Gunung Rinjani di Pulau Lombok. Sedang puncaknya aku jadikan Gunung Agung disebut Hyang Tohlangkir. Dan apabila sekarang dihitung gunung - gunung tersebut, dari bagian timur akan dijumpai gunung - gunung yaitu: Gunung Tasahi, Gunung Pengalengan, Gunung Mangu, Gunung Silanjana, Gunung Beratan, Gunung Batukaru, Gunung Nagaloka, Gunung Pulaki, sebelah tenggaranya terdapat Gunung Puncak Sangkur, Bukit Rangda, Teratebang, dan sebelah timur lagi terdapat Gunung Padangdawa. Dan di pantai selatan akan dijumpai Gunung Andakasa, Gunung Huluwatu, dan terus ke timur di sebelah ternggara terdapat Gunung Seraya, begitulah banyaknya gunung - gunung yang mengelilingi Pulau Bali, dan masih banyak gundukan yang terdapat di tengah - tengah gunung tersebut yang tidak disebutkan namanya. Semua gunung itu, anakku, boleh dipakai dan dipergunakan sebagai tempat tinggal dan di sana membangun parahyangan, sebagai junjungan orang orang Bali sampai di kemudian hari kelak.”

Beberapa lama setelah itu, tiba pula di Bali Catur Bhatara (empat Bhatara), juga putera Bhatara Hyang Pasupati. Mereka adalah Batara Hyang Tumuwuh, Bhatara Hyang Manik Gumawang, Bhatara Hyang Manik Galang dan Bhatara Hyang Tugu berparahyangan di Gunung Andakasa. Dengan datangnya Catur Bhatara ini, maka ada tujuh Bhatra putra putri Hyang Pasupati ada di Bali di jaman Bahari.

Lama setelah itu, yakni pada hari Selasa Kliwon, wara Julungwangi, sasih karo, pananggal ping 1, rah 8, tenggek 1 tahun Saka 118 (bulan Agustus 196), Bhatra Hyang Mahadewa dan Batara Hyang Gnijaya mengadakan yogha semadhi. Ketika itu Gunung Agung lagi meletus. Dari yogha semadhinya Bhatara Hyang Gnijaya itu keluar banjir api dan kemudian tempat aliran api itu disebut sungai api. Dari kekuatan bhatin dan pasca bhayunya Bhatara Hyang Gnijaya, lahir beberap putera laki laki. Yang sulung bernama Mpu Withadharma alias Sri Mahadewa, yang kedua Sanghyang Sidhimantra Sakti, yang ketiga Sang Kulputih, dan yang bungsu (tidak disebutkan namanya) kemudian punda ke Madura, seterusnya dinobatkan menjadi raja disana.

Demikianlah ikhwal tibanya di Bali para Bhatara Hyang yang adalah putra putri Bhatara Hyang Pasupati, sampai Beliau - Beliau ini membangun parahyangan di puncak puncak gunung yang sudah disebutkan tadi.


Informasi Artikel

Cari Berita