Cerita Tentang Celana Dalam
(Taken From “Inspiring Stories Swami Sivananda”)
Salam jumpa sahabat pembaca! Setelah sekian lama menghilang akhirnya bisa nge-blog lagi. Masih seputaran berbagi cerita kebajikan, Saya petikan sebuah cerita dari kumpulan cerita - cerita kebajikan Swami Sivananda. Semoga bisa menghilhami para pembaca semua.
Pada suatu ketika, sebuah Kaupeen (Hindi, celana dalam) dengan keadaannya yang menjijikkan, digunakan oleh tubuh seseorang. Celana dalam itu tertinggal di Benares. Celana dalam itu tergeletak di pinggir Gangga Ghat. Seorang Sadhu yang mengenakan hanya sebuah celana dalam, baru saja kehilangan celana dalamnya di pinggir sungai Gangga sewaktu mandi, ia melihat ada celana dalam lain tergeletak di pinggir Gangga Ghat.
Karena di sekelilingnya tak seorang pun melihat yang mungkin punya celana dalam itu. Orang Sadhu itu memungutnya dan memakainya, untuk menyelamatkan dirinya dari rasa malu karena ia sendiri dalam keadaan telanjang tidak menggunakan celana dalam.
Celana dalam malang itu merasa sangat bersalah, dapat membungkus bagian vital tubuh yang telah digunakan oleh orang lain sebelumnya. Hampir dua-tiga hari berlalu saat celana dalam menyadari majikan barunya menggunakannya bahkan lebih kejam dari majikan sebelumnya. Sadhu ini tidak memiliki celana dalam cadangan sebagai pengganti, dan memakainya sampai dua puluh empat jam. Pemilik celana dalam sebelumnya hanya memakainya pada hari tertentu. Celana ini bersungut-sungut sendiri: “Kesalahan apa yang telah aku lakukan! Aku harus mengganti majikanku yang lama. Majikan baruku tidak memberiku satu hari pun untuk istirahat.”
Mirip dengan seekor kerbau yang muak karena harus bekerja keras membajak sawah pada petak sawah majikannya dari pagi hingga petang. Pada suatu malam, sementara merumput, kerbau itu berlari ke tempat yang agak jauh. Terlihat seorang petani yang mengetahui bahwa kerbau telah melarikan diri dari pemilik sebelumnya, menjadikan dirinya sebagai pemilik baru. Kerbau itu bekerja keras membajak sawah dan mengerjakan pekerjaan lainnya dari pagi sampai malam.
Kerbau itu merenungi dirinya sendiri: “Ah! Kesalahan apa yang telah aku lakukan sehingga lari dari majikanku yang dulu. Majikanku sebenarnya baik hati dan tak pernah membuat aku bekerja sampai malam, namun majikanku yang sekarang, sangat kejam, membuat aku bekerja dari pagi sampai malam dan memukulku tanpa perasaan dengan cemeti. Aku berharap aku tidak akan meninggalkan majikanku yang dulu.”
Celana dalam dan kerbau menyadari bahwa tak seorangpun dapat melarikan diri dari permainan, perintah dan rencana Tuhan. Bagi siapa saja yang mencoba untuk melarikan diri akan terbukti sia-sia dan hanya akan menambah kesulitan serta memaksa mengisi peran yang sudah direncanakan. Celana dalam dan kerbau sekarang belajar kebijaksanaan dan berserah diri kepada kehendak Tuhan dan melaksanakan fungsi yang telah diberikan, mengambil semua kesulitan dan ketidaksenangannya bahwa itulah kewajiban telah diberikan.
Seorang tak dapat mengharapkan kondisi ideal yang berlaku di suatu tempat, sementara ia berharap ditemukan kondisi yang ideal. Pikiran akan tergugah sampai menemukan beberapa kekurangan dalam berbagai keadaan berubah, membutuhkan kondisi yang lebih baik. Ini hanyalah tipuan pikiran untuk lagi dari kedisiplinan. Seorang yang berdisiplin membangun semua kondisi ini, menyesuaikannya dengan semua jenis situasi dan melaksanakan apapun kewajiban yang dikenakan kepadanya. Meskipun sulit, ia melaksanakan beberapa kewajibannya dengan bahagia dan senang hati.
Bhakti yang benar adalah penyerahan diri. Bhakti bukan berarti melakukan Japa,Kirtan atau melakukan pemujaan ritualistik. Seseorang telah berserah diri kepada kehendak Tuhan dan melakukan karma yang dibagikan dengan tenang, dalam jiwa sebagaimana yang dikehendaki Tuhan atau evolusi cepat. Saat itu seorang berprilaku ini, setiap kesulitan, setiap halangan, menjadi bantuan untuk melanjutkan berjalan pada jalan evolusi. Seorang bhakta sejati yang telah berserah diri kepada Tuhan, tidak ada tugas yang sulit, tidak ada tugas yang baru, tidak ada kerja yang terhalangi pada jalan kemajuan rohani. Segala sesuatu mengetahui memuja Tuhan dan mengisi kehendak Tuhan. Oleh karena itu, peliharalah kesadaran kepada Tuhan setiap saat.|
Yoga yang sesungguhnya adalah memelihara kesadaran Tuhan setiap saat. Bukan di Uttarkisa atau Gangotri atau setiap tempat yang lebih tinggi di Himalaya. Dalam pemahaman yang benar segala sesuatunya adalah Tuhan dan semua pekerjaannya adalah pemujaan yang suci. Banyak Murid meinggalkan dunia dan menuju Rsikes untuk mengasingkan diri.
Untuk sementara mereka meninggalkan tempat dan mecari tempat pengasingan yang lebih tinggi seperti di Himalaya, Uttarkasi dan Gangotri. Akhirnya mereka sama sekali tidak menemukan tempat dimana - mana.
Bahkan Uttarkasi dan Gangotri seorang harus pergi untuk meminta sedekah. Seorang harus menciptakan pengasingan diri dimanapun ia tinggal. Pengasingan diri hampir tidak mungkin di bumi ini. Pengasingan fisik akan sia-sia apabila tidak digandeng dengan pengasingan mental. Para murid tidak membuat kemajuan rohani dengan berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Ini seperti sebuah batu yang hanya menumpuk lumut. Itu akan merusak kesehatanmmu, akhirnya seperti celana dalam dan kerbau, mereka menyadari kedunguannnya dengan meninggalkan tempat dimana Tuhan telah bersemanyam di dalamnya, hanya untuk mencari hal yang lebih baik.
Beradaptasilah, kemudian sesuaikan dan diakomodasi. Semoga bermanfaat.
No Comments
Add Comment | comments rss [?]