BIBI ANU
“Bibi anu
Lamun payu luas mandus
Antenge tekekang
Yatnain ngaba Mesui
Tiuk puntul, bawang anggen sesikepan”
Sebuah tembang Bali ‘tua’ yang hampir terlupakan oleh masyarakat Bali saat ini. Kenapa ‘tua’? ya karena keberadaannya mungkin sudah ratuan taun. Dan kenapa ‘hampir terlupakan’? ya karena nyatanya, orang tua
saja banyak yang lupa atau tidak tau syairnya apalagi generasi muda, yang sehari - hari disuguhkan lagu - lagu populer saat ini macam Laskar Pelangi - Nidji, Superstar - Project Pop dan lainnya.
Padahal kalo kita cermati ada kandungan nilai filosofi dan pesan moral yang dalam banget yang bisa dipakai bekal dalam menjalani kehidupan ini.
BTW, Kenapa saya tertarik mengangkat tema Bibi Anu ini sebagai artikel? Itu karena sekarang ini setiap kali ayah mertua meninabobokan putra kami, tembang Bibi Anu inilah yang berkumandang dalam kemasan pupuh pucung.
Sekilas terdengar memanglah sebuah tembang lagu dengan syair yang sederhana, tetapi setelah menonton Wayang Cenk Blong dimana tembang Bibi Anu ini dibahas, barulah saya sadari alangkah indah pesan yang tersirat, yang
ingin disampaikan sang pencipta lewat baris - baris sederhana Bibi Anu tersebut.
Kurang lebih inilah makna yang terkandung yang saya kutipkan dari pelakonan wayang Ceng Blonk (lupa judulnya apaan
)
Bibi anu lamun payu luas mandus
(Pesan ibu kalo jadi pergi mandi)
Yang dimaksud mandi disini adalah pergi mencari kesucian
Antenge tekekang
(giatlah berusaha)
Berusaha setiap saat secara konsisten, ingatlah Tuhan selalu, jangan hanya ingat di kala susah saja.
Yatnanin ngaba masui
(waspada membawa musuh)
kenapa membawa musuh? karena musuh kita sesungguhnya adalah sifat negatif (indriya) dalam diri sendiri. Jadi selama masih hidup sifat2 itu akan terus mempengaruhi prilaku kita, maka waspadalah!
Tiuk puntul bawang anggen sesikepan
(pisau tumpul, bawang pake senjata)
setiap orang terlahir sebagai orang bodoh, tidak tau apa (awidya) layaknya pisau yang tumpul, maka bawa/wibawa yang harus dipakai senjata, bagaimana mendapatkan wibawa itu? dasarnya adalah dengan kesucian hati dan pikiran.
Mantap kan pesannya?
Kalo boleh saya simpulkan, yang bisa kita petik dari syair Bibi Anu ini adalah Kalo ingin mencapai kesucian (dalam hal ini tujuan hidup apapun cita - cita kita), hendaknya senantiasa bisa mengendalikan diri (karena musuh terberat selalu ada pada diri sendiri) dan utamakan budi perkerti / wibawa sebagai bekal mencapai tujuan itu.
Semoga bermanfaat.
3 Comments
Add Comment | comments rss [?]