<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>Bali Tradition</title>
	<atom:link href="http://sucimadri.com/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sucimadri.com</link>
	<description>Balinese Traditions and Cultures, Balinese in Modern Life</description>
	<pubDate>Thu, 13 May 2010 13:47:18 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Rahajeng Rahina Galungan lan Kuningan</title>
		<link>http://sucimadri.com/?p=55</link>
		<comments>http://sucimadri.com/?p=55#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 May 2010 13:55:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Bali Life Stories]]></category>

		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<category><![CDATA[Galungan]]></category>

		<category><![CDATA[Kuningan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sucimadri.com/?p=55</guid>
		<description><![CDATA[Om Swastiastu,
<br />
<br />
Apa kabar sahabat pembaca?
<br /> 
<br />
Semoga saya jumpai sahabat semua dalam keadaan sehat dan tak lupa saya ucapkan Selamat hari raya Galungan dan Kuningan saya kepada seluruh Sahabat se-Dharma.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Om Swastiastu,</p>
<p>Apa kabar sahabat pembaca? </p>
<p>Semoga saya jumpai sahabat semua dalam keadaan sehat dan tak lupa saya ucapkan Selamat hari raya Galungan dan Kuningan kepada seluruh Sahabat se-Dharma.</p>
<p>Dalam menyambut hari Raya Galungan dan Kuningan ini, saya ingin berbagi sebuah artikel yang sangat menarik yang saya kutipkan dari sebuah buku yang disusun oleh Jro Mangku Gde Ketut Soebandi yang berjudul Pandita Sakti Wawu Rawuh.</p>
<p>Semoga menginspirasikan kita untuk selalu mengingat ke-Maha Kuasa-an Tuhan serta menjaga dan memelihara segala apa yang telah dilimpahkan kepada kita sebagaimana makna hari suci Galungan dan Kuningan sebagai wujud bhakti dan puji syukur atas segala karunia Sang Hyang Widhi.</p>
<p>Sebagai awal kisah ini, dahulu kala pada jaman bahari, ketika belum ada apa - apa dan keadaannya kosong, belum ada matahari, bulan, bintang dan dunia, hanya terdapat Sang Hyang Embang Yang Maha Tunggal, Maha Besar namun juga Maha Kecil, gaib dan belum ada manusia. Pada masa itu tidak ada sifat ragu ragu, segalanya bersifat sempurna, suci, tidak lain ialah Dewa Yang Tunggal, disebut Sang Hyang Maha Tunggal. Tidak berbentuk, tidak terdapat rasa kasih sayang, dan tidak dikenal tentang asal usul, ada dimana mana serta setiap saat bisa berhenti dan tidak bergerak, Disebut Widhi Tattwa atau Purana Dewa Tattwa, dan apabila dilukiskan dengan aksara (huruf) yang utama, disebut Windhu yaitu kosong, berwujud Sang Hyang Windhu, suaranya seperti telinga ditutup. Sedang Windhu berarti Kawi ialah Sang Hyang Kawi, Windhu yang bermakna kosong, akan tetapi kosong yang penuh, dan ada dimana mana serta setiap saat, tidak berujung dan berpangkal, tanpa asal mula dan tidak ada batasnya, berada di tempat sunyi dan suci, disebut Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa). Mempunyai sifat serba maha yakni Maha Tahu, Maha Penyayang, Maha Pengasih, Maha Pemurah, Maha Adil dan lain-lainnya, kemudian beliau mengadakan Yogha Semadhi.</p>
<p>Tidak dikisahkan mengenai yogha semadhinya, kemudian lahirlah dari yogha semadhinya itu yang disebut Sang Hyang Licin juga disebut Sang Hyang Eka Aksara, yaitu Ongkara. Selanjutnya Sang Hyang Eka Aksara melakukan yoga semadhi, lalu lahir Sang Purusa Pradhana (Positif dan Negatif), yang disebut Sang Hyang Akasa dan Prathiwi atau yang disebut pula rwa bhinedha (baik buruk atau suka duka) atau Sang Hyang Dwi Aksara yaitu Ang, Ah.</p>
<p>Kemudian Sang Yang Purusa Pradhana melakukan Yoga Semadhi, seterusnya lahir Sang Hyang Tri Purusa, yang disebut Sang Hyang Siwa, Sadha Siwa dan Parama Siwa, atau yang disebut Sang Hyang Tri Purusa yaitu Ang, Ung, Mang. Seterusnya Sang Hyang Tri Purusa juga melakukan Yoga Semadhi dan dari yogha Semadhinya ini, lahir Sang Hyang Catur Purusa, yang disebut Sang Hyang Catur Purusa juga disebut Sang Hyang Catur Windhu Dewa. Mereka itu adalah: yang sulung disebut Sang Hyang Amurwwa Akasa Sakti, yang kedua disebut Sang Hyang Sakti Saptakadwa, yang ketiga disebut Sang Hyang Suryya Rsiwu, dan yang bungsu disebut Sang Hyang Guru Pasupathi. Demikianlah kisahnya pada jaman bahari.</p>
<p>Dikisahkan, tatkala ada seorang sakti luar biasa dan tidak ada bandingannya, tidak bertempat tinggal, amat seram dan mengerikan wajahnya, bertaring tajam dan lancip, sifatnya hampir seperti raksasa yakni loba, tamak, rakus dan pemarah, makannya serba banyak, ia selalu menimbulkan keonaran dan keresahan, akhirnya ia kembali ke akhirat. Sesudah itu dititahkan oleh Yang Maha Pencipta menjelma ke dunia fana ini sepasang laki perempuan (ardhanareswari), setelah dibersihkan (disucikan) lalu dimasukkan ke dalam buah kelapa, dipuja dan kemudian diberi wedha serta dalam keadaan suci, diwujudkan seperti pertapa di pertengahan Gunung Agung. Di sana ia melakukan tapa dengan memuja Sang Hyang atau Bhatara Hyang Pasupathi agar segera turun ke pulau Bali, untuk menjadi junjungan dan pujaan di Bali.</p>
<p><strong>Bali Pada Jaman Bahari</strong><br />
Bagaimana keadaaan Pulau Bali di jaman itu? Disebutkan bahwa pada jaman bahari Pulau Bali dan Lombok dalam keadaan labil, masih sunyi senyap, seolah olah mengambang di tengah lautan yang luas, ibarat sebuah perahu tanpa pengemudi, oleng ke sana kemari tidak tentu arahnya. Keadaan Pulau Bali dan Lombok sangat labil dan selalu bergoyang, dan kedua pulau ini kadang kala rapat menjadi satu, akan tetapi lebih sering terpisah. Keadaan ini mendapat perhatian serius dari Batara Hyang Pasupathi, dan beliau sangat iba hati dan kasihan melihat pulau Bali dan Lombok dalam keadaan labil dan terus bergoyang ini. Oleh Batara Hyang Pasupati dirinci, bahwa di Bali ketika itu baru ada 4 buah gunung, masing-masing disebelah timur Gunung Lempuyang, disebelah selatan Gunung Andakasa, disebelah barat Gunung Batukaru, dan di sebelah Selatan Gunung Beratan. Untuk menstabilkan pulau Bali dan Lombok ini, Batara Hyang Pasupati memotong puncak Gunung Semeru di Jawa Timur kemudian dibawa ke Bali dan Lombok.</p>
<p>Oleh Bhatara Hyang Pasupati, Sang Bhadawangnala dititahkan menjadi dasar bumi, Sang Ananthaboga dan Sang Naga Bhasukih sebagai sebagai pengikatnya, dan Sang Naga Taksaka ditugaskan menerbangkan potongan Gunung Semeru tersebut, ada bagian bagian yang tercecer, yang rembak tercecer menjadi Gunung Lebah (Gunung Batur), sedang bagian terbesar menjadi Gunung Tohlangkir (Gunung Agung). Sejak itu di Pulau Bali terdapat Sad Pralinggagiri (6 buah gunung). Potongan Gunung Semeru itu dibawa ke Bali, pada hari Kamis Umanis, wara Merakih, panglong ping 15, sasih Karo, tanggek 1, rah 1, candra sangkala eka tang bhumi yakni tahun saka 11 (bulan Agustus 89). Kemudian sesudah 70 tahun lamanya, pada hari Jumat Kliwon, wara Tolu, sasih kelima, pananggal 5, rah tanggek 13 (bulan November) turun hujan yang sangat lebat, disertai gempa bumi hebat selama 2 tahun. Ini terjadi pada tahun Saka 113 (tahun 191 M). Ketika Gunung Agung tersebut meletus, tiba tiba muncul di Besakih Bhatara Hyang Putrajaya, bersama adiknya Bhatara Hyang Mahadesa dan Bhatari Hyang Dewi Dhanuh. Bhatari Hyang Dewi Dhanuh berparahyangan (bertempat tinggal) di hulun danu atau Gunung Batur, sedang Bhatara Hyang Gnijaya berparahyangan di Puncak Lempuyang. Selanjutnya beliau bertiga disebut Bathara Hyang Tri Purusa.<br />
Tatkala akan berangkat ke Bali, Bhatara Hyang Pasupati bersabda kepada bhatara Hyang Tri Purusa: &#8220;Kamu Mahadesa, Dhanuh dan Gnijaya, aku perintahkan kamu segera berangkat ke Bali, agar menjadi tenang keadaan di Pulau Bali, dan disana kamu menjadi junjungan nanti.&#8221;<br />
Mendapat perintah demikian, lalu Bhatara Hyang Tri Purusa segera bersiap berangkat. Akan tetapi sebelum berangkat beliau matur terlebih dahulu kepada Bhatara Hyang Pasupathi:&#8221;Ya, Hyang Bhatara, oleh karena kami putera Hyang Bhatara masih anak-anak (masih kecil), belum tahu jalan yang harus dilalui, tunjukkanlah jalan itu.&#8221; Lalu dijawab oleh Bhatara Hyang Pasupati. Sabda Beliau: &#8220;Anakku bertiga, jangan susah hati, akan kutunjukkan jalan, sebab kamu adalah anakku, dan berdoalah supaya kamu segera tiba di Bali untuk dipuja di sana.&#8221; </p>
<p>Sesudah itu dimasukkannya Batara Hyang Tri Purusa ke dalam buah kelapa gading oleh Batara Hyang Pasupati. Setelah dimasukkan lalu diberkati oleh Batara berdasarkan ketinggian bathinnya, selanjutnya Batara Hyang Tri Purusa  berangkat melalui dasar laut.</p>
<p>Disebutkan pula bahwa ada perintah Sang Hyang Parameswara yang tidak lain ialah Batara Hyang Pasupati, kepada putra putranya, terutama kepada Sang Hyang Gnijaya Sakti atau Batara Hyang Gnijaya. Perintah itu mengatakan:<br />
&#8220;Wahai anakku sekalian, mau kuperintahkan pergi ke Bali, agar menjadi tentram pulau Bali, dan agar kamu menjadi penguasa dan junjungan rakyat disana. Untuk tempat tinggal boleh kamu memilih gunung sebagai tempat tinggalmu, dan disana supaya kamu membuat Kahyangan, sebab sekarang di Bali ada beberapa buah gunung. Adanya gunung tersebut tidak lain berkat yoghaku dahulu, dengan membawa gunung gunung itu dari India. Gunung yang bernama Mahameru aku potong dipertengahannya sampai ke puncknya, lalu aku bawa dan tempatkan di pulau Bali, dan setibanya aku pecah - pecah menjadi beberapa bagian besar kecil, sesudah aku letakkan semuanya seperti gundukan gundukan, kemudian menjadi gunung yang terdapat di pegunungan, akibatnya pulau Bali menjadi tenang dan tidak bergoyang lagi.&#8221;<br />
Di sana akan kamu jumpai nanti gunung terbesar yang disebut gunung Agung, terletak dibagian timur laut Pulau Bali, diibaratkan gunung tersebut sebagai gunung emas berpuncak manik, berdasarkan ratna winten, berbatu mirah, berpasir padi, itulah bejas puncaknya mahameru. Potongan Gunung Mahameru tersebut dahulunya aku bagi menjadi tiga bagian, yang sebagian menjadi Gunung Batur (Gunung Lebah) sebagai dapurnya hyang gni (kawah berapi) pada bagian bawahnya. Bagian bawah dari potongan Gunung Mahameru tersebut aku jadikan Gunung Rinjani di Pulau Lombok. Sedang puncaknya aku jadikan Gunung Agung disebut Hyang Tohlangkir. Dan apabila sekarang dihitung gunung - gunung tersebut, dari bagian timur akan dijumpai gunung - gunung yaitu: Gunung Tasahi, Gunung Pengalengan, Gunung Mangu, Gunung Silanjana, Gunung Beratan, Gunung Batukaru, Gunung Nagaloka, Gunung Pulaki, sebelah tenggaranya terdapat Gunung Puncak Sangkur, Bukit Rangda, Teratebang, dan sebelah timur  lagi terdapat Gunung Padangdawa. Dan di pantai selatan akan dijumpai Gunung Andakasa, Gunung Huluwatu, dan terus ke timur  di sebelah ternggara terdapat Gunung Seraya, begitulah banyaknya gunung - gunung yang mengelilingi Pulau Bali, dan masih banyak gundukan yang terdapat di tengah - tengah gunung tersebut yang tidak disebutkan namanya. Semua gunung itu, anakku, boleh dipakai dan dipergunakan sebagai tempat tinggal dan di sana membangun parahyangan, sebagai junjungan orang orang Bali sampai  di kemudian hari kelak.&#8221;</p>
<p>Beberapa lama setelah itu, tiba pula di Bali Catur Bhatara (empat Bhatara), juga putera Bhatara Hyang Pasupati. Mereka adalah Batara Hyang Tumuwuh, Bhatara Hyang Manik Gumawang, Bhatara Hyang Manik  Galang dan Bhatara Hyang Tugu berparahyangan di Gunung Andakasa. Dengan datangnya Catur Bhatara ini, maka ada tujuh Bhatra putra putri Hyang Pasupati ada di Bali di jaman Bahari.</p>
<p>Lama setelah itu, yakni pada hari Selasa Kliwon, wara Julungwangi, sasih karo, pananggal ping 1, rah 8, tenggek 1 tahun Saka 118 (bulan Agustus 196), Bhatra Hyang Mahadewa dan Batara Hyang Gnijaya mengadakan yogha semadhi. Ketika itu Gunung Agung lagi meletus. Dari yogha semadhinya Bhatara Hyang Gnijaya itu keluar banjir api dan kemudian tempat aliran api itu disebut sungai api. Dari kekuatan bhatin dan pasca bhayunya Bhatara Hyang Gnijaya, lahir beberap putera laki laki. Yang sulung bernama Mpu Withadharma alias Sri Mahadewa, yang kedua Sanghyang Sidhimantra Sakti, yang ketiga Sang Kulputih, dan yang bungsu (tidak disebutkan namanya) kemudian punda ke Madura, seterusnya dinobatkan menjadi raja disana.</p>
<p>Demikianlah ikhwal tibanya di Bali para Bhatara Hyang yang adalah putra putri Bhatara Hyang Pasupati, sampai Beliau - Beliau ini membangun parahyangan di puncak puncak gunung yang sudah disebutkan tadi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sucimadri.com/?feed=rss2&amp;p=55</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>SARASWATI: Sapta Sindhu, Sapta Gangga, dan Sapta Ongkara</title>
		<link>http://sucimadri.com/?p=46</link>
		<comments>http://sucimadri.com/?p=46#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Feb 2010 10:37:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Bali Life Stories]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sucimadri.com/?p=46</guid>
		<description><![CDATA[Dear Sahabat pembaca,
Selamat merayakan hari raya Saraswati bagi seluruh semeton se-Dharma, semoga senantiasa diberikan kecerahan hati dan pikiran oleh Sang Hyang Aji Saraswati, sehingga kesadaran untuk mengembangkan intelektualitas di segala bidang terus terjaga.
Berikut saya kutipkan artikel oleh I.B. Putu Suamba melalui kiriman dari seorang semeton bernama Ia Putu Devi Savitri (Ampura gek, tiang re-posting artikelnya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dear Sahabat pembaca,</p>
<p>Selamat merayakan hari raya Saraswati bagi seluruh semeton se-Dharma, semoga senantiasa diberikan kecerahan hati dan pikiran oleh Sang Hyang Aji Saraswati, sehingga kesadaran untuk mengembangkan intelektualitas di segala bidang terus terjaga.</p>
<p>Berikut saya kutipkan artikel oleh I.B. Putu Suamba melalui kiriman dari seorang semeton bernama Ia Putu Devi Savitri (Ampura gek, tiang re-posting artikelnya, semoga bermanfaat bagi sahabat pembaca, gpp kan ya? <img src='http://sucimadri.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Hari suci Saraswati disucikan oleh umat Hindu di seluruh dunia. Umat Hindu di India dan sekitarnya melakukan Saraswati Puja setahun sekali, yaitu pada hari kelima. setelah bulan purnama (Panchami Tithi) dan disebut Sukia Pancami pada bulan Magha (Januari-Februari). Hari ini jüga lebih dikenal secara meluas sebagai Vasanta Panchami. Tetapi pada beberapa daerah di India, Saraswati Puja dilaksanakan pada Sukla Paksa bulan Asvina (September-Oktober) dan biasanya dilaksanakan pada Austami Tithi dalam bulan tsb. Sementara di Indonesia Saraswati Puja dilakukan setiap enam bulan atau 210 hari sekali menurut sistem kalender wuku, kalender Jawa Bali, yaitu pada Saniscara Umanis Watugunung. Serangkaian upacara dilaksanakan baik pra maupun pasca Hari Suci Saraswati ini. Yang perlu juga mendapat perhatian adalah Saraswati Puja dilaksanakan hari terakhir (Saniscara) dan wuku terakhir, Watugunung.<br />
Tradisi pemujaan Saraswati sebagai dewi melambangkan ilmu pengetahuan sudah berlangsung sejak dulu kala, sejak orang-orang Arya melahirkan peradaban Weda di India jauh sebelum permulaan tarikh Masehi. Hal ini mencerminkan betapa umat Hindu sangat menghargai ilmu pengetahuan di dalam menjalani hidupnya. Hidup terasa gelap tanpa ilmu pengetahuan. Hidup akan terasa terang, bercahaya, terarah, dan lebih mudah dengan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu kita semestinya memaknai Puja Saraswati yang datang setiap entam bulan sekali dengan penuh kesucian dan kesadaran diri. Pemaknaan itu selanjutnya dapat diimplementasikan di dalam kehidupan sehari-hari bahwa di dalam upaya mencapai purusa artha diperlukan pengetahuan (jnana) baik apara widya dan para widya.<br />
Tulisan pendek ini dimaksudkan untuk pendalaman makna Saraswati Puja. Dari sini diharapkan kesadaran diri semakin tumbuh betapa ilmu pengetahuan tersebut memegang peranan yang sangat penting di dalam kehidupan. Pengetahuan yang selanjutnya melahirkan sains dan teknologi hendaknya dikembangkan di dalam bingkai nilai-nilai Saraswati, sehingga teknologi tersebut bermanfaat di dalam pendakian rohani umat Hindu. Teknologi bukannya menjerumuskan, namun dapat mempermulia, mengangkat kehidupan manusia ke tingkat yang lebih baik. Pemaknaan tersebut tidak hanya bersifat ritual, namun di balik itu adanya semangat membelajarkan diri, menempa diri agar secara berangsur-angsur ada peningkatan kualitas sang diri dan hidup yang menderita ke hidup yang lebih berbahagia di dalam sinar ilmu pengetahuan (widya).<br />
Saraswati sebagai Sungai<br />
Menurut Yaska dalam karyanya Nirukta ‘saraswati’ mempunyai dua makna. Pertama bermakna ‘sungai’ dan kedua ‘dewi’. “Saraswati iti etasya nadi bad dewatabchha nigami bhavanti”. Sementara Sayana dalam Rigbhasa menyatakan “dvididha hi Sarasvati vigrahavat devata nadirupa cha”. [(Saraswati bermakna ‘danau yang berlimpah’ (saras).] Rg-Weda juga menyatakan hal yang sama. Kedua makna ini secara umum dipegang oleh para sarjana di dalam mengungkap misteri sungai Saraswati.<br />
Saraswati disebut juga Brahma, Sarada, Putkari, dan Wagiswari. Saraswati kekuatan feminim Brahma, sementara Gangga kekuatan feminim Siwa. Secara tradisi sungai Saraswati juga dikenal dengan nama Sarsuti. Secara mitologi keberadaan sungai-sungai ini disebutkan di dalam kitab-kitab purana.<br />
Misteri yang masih menyelimuti sejarah peradaban Weda adalah transformasi dewi sungai Saraswati menjadi dewi pasca Weda, yaitu dewi kebijaksanaan dan ilmu pengetahuan. Terhadap masalah ini beragam pendapat pernah dilontarkan oleh para peneliti di bidang Idologi. Dewi Saraswati Iebil-i menonjol dipuja sebagai Dewi Ilmu Pengetahuan dan Kebijaksanaan dari pada sebagai Dewi Sungai yang memberikan anugrah kesuburan. Namun jika dicermati kepustakaan Weda, eksistensi Saraswati sebagai sungai banyak disebutkan bahkan di antara sungai-sungai Saraswati dianggap yang paling utama (nadi tame). Saraswati sebuah sungai tidak lagi diragukan.<br />
Ambitame naditame devitame Sarasvati<br />
Aprasastra ivasniasi prasastim amba nas krdhi<br />
(Rg-Weda, 2.41.16).<br />
[O Ibu terbaik, o sungai terbaik, o dewi terbaik, Saraswati, (kami merasakan) seolah-olah tidak diberikan perhatian, mohon anugrahkan kami dengan kernasyuran, o ibu].<br />
Nama ‘Saraswati’ muncul di dalam sejumlah kesusastraan Weda : rgWeda 10, 64, 9 menyebutkan sungai Saraswati, Sarayu, Sindhu; 10, 75, 5; 3; 23,4; Taittiriya Aranyaka 10, 1, 13 Gangga, Yamuna, Saraswati, Sutudri; Maha Narayana Upanisad 141. Dalam Atharva Weda Samhita Resensi Pippalada 20, 29, 5 ia dipanggil bersama-sama dengan sungai-sungai secara umum. Rg-Weda 1, 3, 12 (Vajasaneyi Samhita 20, 86) menguraikan dia sebagai banjir yang dahsyat (maho arnah)’. Atharva Weda Samhita Resensi Saunaka 6,41,2 sebagai yang menjangkau jauh dan luas (uruvyaca). Rg-Weda 2, 41, 16) dia sebagai sungai, ibu, dan dewi.<br />
       Rg-Weda mengagungkan dengan himne:<br />
       Ayatsakam yasaco vavasanah Saraswati saptathi sindhumata<br />
       Yah susvayanta sudughah sudhara abhiswena payasa pipyanah<br />
(Saraswati mengalir untuk masa tua. Air alirannya nampak seperti kain putih dirajut dengan benang reputasinya. Ia adalah sungai dan ibu dan enam sungai. Airnya dikatakan sebagai penuh dengan susu bagi anak-anaknya tanahnya. Ia sangat bahagia dengan aliran arusnya).</p>
<p>Terdapat empat poin di dalam kutipan di atas:<br />
1. Pengagungan Saraswati telah ada bahkan sebelum pelafalan ayat Weda<br />
di atas dibuat untuk memujanya.<br />
2. Ia adalah aliran sungai ketujuh dan ibu dan enam sungai. Sebagian besar sarjana    Weda setuju dengan keberadaan ketujuh sungai berikut, yaitu (1) Sultej, (2) Rawi, (3) Chinab, (4) Hjelum, (5) Vyas dan (6) Sindhu (Indu) yang, pada wilayah-wilayah tepinya peradaban sungai Sindhu berkembáng. “Saptathi” berarti yang yang ketujuh di atas mana Saraswati itu sendiri berada.<br />
3. Sungai Saraswati mempunyai cukup air untuk mengaliri sungai-sungai lain seperti seorang ibu memberikan susu kehidupan kepada anak-anaknya.<br />
4. ‘Sindhumata’ berarti ibu dan sungai. Di sini Sindhu (Indu) tidak mempunyai makna sungai Sindhu (Indu). Saraswati dan Sindhu merupakan dua sungai yang berbeda dan mereka telah ada jauh sebelum himne-himne Rg-Weda disusun.<br />
Eksistensi sungai Saraswati terekam di dalam dokumen spiritual bangsa Arya, yaitu Weda hingga Purana, Mahabharata dan Ramayana, Rsi-rsi RgWeda seperti Grtsamada, Bhargawan dan Saunaka memuja Saraswati sebagai ibu tertinggi, sungai terbesar dan dewi di antara para dewi. Namun sekarang secara fisik sungai Saraswati tidak ada lagi. Memudarnya atau hilangnya aliran sungai ini diperkirakan karena evolusi alam. Pergeseran lapisan bumi, gempa bumi selama ribuan tahun menyebabkan aliran sungai ini tertimbun oleh lapisan-lapisan sehingga tidak bisa dikenali lagi. Ada juga percaya lenyapnya sungai ini karena alasan-alasan mitologis.<br />
Upaya-upaya menggali dan mengidentifikasi aliran sungai ini tengah diusahakan. Penelitian-penelitian yang mendalam terhadap sungai ini telah dan sedang dilakukan. Secara tradisional sungai Saraswati bertemu dalam sebuah sanggam atau campuhan di<br />
Prayaga (Allahabad). Di sini tiga sungai bertemu, yaitu Saraswati, Gangga dan Yamuna. Titik pertemuan ini dikenal dengan Sanggam Tri Weni. Tempat ini dipandang sangat suci, tempat umat Hindu melakukan upacara penyucian diri Kumbha Mela setiap tahun. Setiap 12 tahun sekali disebut Maha Kumbha Mela. Jutaan umat Hindu dan seluruh India dan dunia datang ke sini untuk melakukan tirtha yatra, penyucian lahir bathin. Secara fisik mereka mandi dan melakukan pemujaan dan ada juga yang menemui guru-guru spiritualnya minta anugrah dan pencerahan-pencerahan rohani.<br />
Sapta Sindhu dan Sapta Saraswati<br />
Bharata (India) dikenal juga dengan nadi martrika, karena dialiri oleh sungai-sungai sehingga tanahnya subur. Bharata juga dikenal dengan sebutan deva martrika, karena tanahnya mendapat cukup curah hujan. Kondisi alam yang subur dengan hutan, gunung, danau, lahan pertanian yang luas memungkinkan lahirnya pikiran-pikiran besar di bidang agama, filsafat, kesenian, kebudayaan, teknologi, dan sebagainya. Peradaban besar India lahir dan pemukiman dekat dengan air. Weda dan kesusastraan Weda diperkirakan lahir di sekitar lembah-lembah sungai, seperti sungai Sindhu. Dapat dikatakan peradaban Weda pada intinya adalah peradaban yang lahir atau mendapat inspinasi dan air (apah). Konsep ini kemudian dijabarkan ke dalam benbagai bentuk fisik maupun non fisik membentuk kebudayaan Hindu baik di India maupun di Indonesia.<br />
Di dalam kitab suci Weda disebutkan sungai-sungai penting. ‘Sapta Sindhya’ berarti ‘tujuh sungai’. Ketujuh sungai tersebut adalah Gangga, Yamuna, Godavari, Saraswati, Narniada, Sindhu dan Kaveri. Dengan demikian mereka disebut Sapta Sindhu. Bumi pertiwi India disebut juga dengan “Sapta Sindhu”, karena dialiri oleh sungai. Di dalam Mahabharata tujuh sungai disebut dalam satu tempat Vaswokasara, Nalini, Pavani, Gangga, Sita, Sindhu dan Jambu-nadi; dan tempat lain disebutkan Gangga, Yamuna, Plakshaga, Rathastha, Saryu (Sarju), Gomati dan Gandaki (Gandak). Di dalam Ramayana dan kitab-kitab purana tujuh sungai adalah tujuh aliran-aliran yang lebih kecil ke dalam mana Gangga terbagi setelah jatuh dan rambut Siwa:<br />
Nalini, Hiadini, dan Pavani mengalir ke Timur, Chakshu, Sita, dan Sindhu mengalir ke Barat, sementara Gangga atau disebut juga Bhagirathi mengalir ke Selatan. Jika diamati ada perbedaan nama-nama dalam Sapta Sindhu tersebut.<br />
“Sindhu” disini lebih banyak danau, lahan pertanian memungkinkan lahimya pikiran-pikiran besar di bidang agama, filsafat, kesenian, kebudayaan, teknologi, dan sebagainya. Peradaban besar India lahir dan pemukiman dekat dengan air. Weda dan kesusastraan Weda diperkirakan lahir di sekitar lembah-lembah sungai, seperti sungai Sindhu. ‘Sindhu’ di sini lebih banyak bermakna sungai. Para rsi memuja ketujuh sungai tersebut.<br />
           Gange ca Yamune caiva Godawari Saraswati<br />
           Narmade Sindhu Kaveri jalesmin sanndhim kuru.<br />
[Oh Gangga dan Yamuna, Godawari dan Saraswati, of  Narmada, Sindhu dan                      Kaweri, bersemayam di dalam air ini (dengan mana aku mandi).<br />
Berapa rc di dalam Rg-Weda sebagai sumber yang mengacu kepada keberadaan Saraswati:<br />
Yaste stanah Sasyo yo mayobhuyemma visva pushyasi<br />
Varyani yo ratnadha vasuvidyah sudatrah<br />
           sarasvati tamiha dhatave kah (Rg-Weda 1. 164. 49). [Oh Saraswati anugrahilah   susu kehidupanmu untuk kehidupan di sini yang ada di dalam tubuhmu, yang menaburkan kebahagiaan yang engkau berikan kepada (mereka yang memujamu) dengan semua bendabenda terpilih, ia yang memegang semua benda-benda indah, yang mengetahui kekayaan musuh dan yang menawarkan hadiah-hadiah baik].<br />
           Pavaku nah Sarasvati vajebhirvajini-vati Yajnam vasthu dhiyavasuh (Rg-Weda   1.3.10). [Mudah-mudahan Dewi Saraswati menjadi penyuci, mudah-mudahan ia yang memiliki makanan menganugrahkan kepada kami, yang memiliki kekayaan mudah-mudahan menginginkan yajna].<br />
           Codayitri sunrtanam cetani sumatinam Yajnam dadle saraswati (Rg-Weda 1.3.13). [Saraswati memberikan inspirasi perbuatan baik dan pikiran baik memegang yajna].<br />
           Maho arnah Saraswati pra cetayati ketuna Dhiyo visva vi rajati (Rg-Weda 1.13.12). [Saraswati dikenal, melalui gerakan air yang maha besar. Semoga doa pujaan memancarkan cahaya sangat banyak]<br />
           Sarasvati tvamasmam aviddhi marutvati jeshi Satrun<br />
Tyam cicchardhantam tavishiyamanamindro hanti<br />
Vrshabham Sandikanam (Rg-Weda 2.30.8).<br />
[Oh Sarasvati engkau melindangi kami. Engkau yang dihubungkan dengan para Marut, yang merupakan petarung agung menakiukan musuh-musuh kami. Indra membunuh para Shandika yang kuat yang terkenal yang membenci kami].<br />
           Vivasema Iyam sush mebhirvisaka ivarujat sanu girinam tavashebhirurmibhih<br />
Paratva taghnimavase survrktibhih Sarasvatima dhitibhih (Rg-Weda 6.61.2). [Saraswati menghancurkan puncakpuncak gunung dengan arus gelombangnya yang kuat seperti begitu gampangnya menghancurkan kembang-kembang. Kami mengagungkan dia sebagai penghancur gunung-gunung dan memujanya dengan pengabdian yang agung demi perlindungan kami].<br />
           Ekacetat Sarasvati nadinam suciryati giribhya a samudrat (Rg-Weda, 7.95.2) [Sarasvati saja yang memiliki vitalitas di antara sungai-sungai dan ia yang paling suci mengalir dari gunung-gunung menuju laut.<br />
           Imam me gange yamune sarasvati Satudri stomam Sacata parushnya<br />
Asikanya marudvrdhe citastayarjikiye Srnutdya Sushomaya (Rg-Weda<br />
10.75.5). [Oh Gangga, Yamuna, Sarsvati, Satudri dengan Parshi, Marudvridhan dengan Asikini; Arjikiya dengan Visastra dan Sushnoma mendengar doa mu.<br />
Ayat sakam yasaso vavasnah sarasvati sap tathi sindhumata.<br />
           Yah sushvayanta sudughah sudhara abhisvena payasa pip yanah (Rg-Weda<br />
7. 36.6). [Mudah-mudahan (sungai) ketujuh, Sarasvati, ibu sungai Sindhu dan sungai-sungai yang mengalir deras dan menyuburkan memberikan makanan berlimpah, dan memberikan makanan (kepada orang-orang) dengan air mereka, datang pada suatu saat bersama-sama].<br />
Sementara orang-orang Arya menyebar ke seluruh penjuru India. Mereka secara pelan dan pasti menyebar ke lima aliran sungai (disebut Panchananda Pradesh) hingga ke pinggir sungai Saraswati. Mereka menemukan tujuh sungai, yaitu Surenu di Haridwar, Supraba di Puskar, Vimaloda di Himalaya, Oghavati di Kuruksetra, Kanchamakshmi di Naimisarya, Manomara di Kosala dan Visala di Gaya. Sungai-sungai ini dikenal dengan nama Sapta Saraswati, sebuah nama yang diberikan oleh orang-orang Arya. Maka, sekarang seluruh wilayah yang didiami oleh bangsa Arya disebut dengan Sapta Sindu dan Sapta Saraswati.<br />
Sapta Sindhu dan Sapta Saraswati merupakan tempat cikal bakal peradaban India berkembang hingga sekarang. Peradaban ini dikembangkan di atas nilai-nilai logika dan spiritualitas.<br />
Di sepanjang aliran-aliran sungai ini banyak ada titik penting untuk melakukan tirta yatra. Di sepanjang sungai ini bermukim orang-orang suci dengan murid-muridnya. Mereka membangun tradisi Weda di sini<br />
Di sepanjang aliran-aliran sungai ini banyak ada titik penting untuk melakukan tirta yatra. Di sepanjang sungai ini bermukim orang-orang suci dengan murid-muridnya. Mereka membangun tradisi Weda di sini.*WHD No. 498 Juni 2008.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sucimadri.com/?feed=rss2&amp;p=46</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Cerita Tentang Celana Dalam</title>
		<link>http://sucimadri.com/?p=44</link>
		<comments>http://sucimadri.com/?p=44#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Jan 2010 15:38:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cerita Kebajikan]]></category>

		<category><![CDATA[celana dalam]]></category>

		<category><![CDATA[cerita]]></category>

		<category><![CDATA[kebajikan]]></category>

		<category><![CDATA[kesadaran tuhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sucimadri.com/?p=44</guid>
		<description><![CDATA[<em>(Taken From “Inspiring Stories Swami Sivananda”)</em><br /><br />

Pada suatu ketika, sebuah Kaupeen (Hindi, celana dalam) dengan keadaannya yang menjijikkan, digunakan oleh tubuh seseorang. Celana dalam itu tertinggal di Benares. Celana dalam itu tergeletak di pinggir Gangga Ghat. Seorang Sadhu yang mengenakan hanya sebuah celana dalam, baru saja kehilangan celana dalamnya di pinggir sungai Gangga sewaktu mandi, ia melihat ada celana dalam lain tergeletak di pinggir Gangga Ghat.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>(Taken From “Inspiring Stories Swami Sivananda”)</em></p>
<p>Salam jumpa sahabat pembaca! Setelah sekian lama menghilang akhirnya bisa nge-blog lagi. Masih seputaran berbagi cerita kebajikan, Saya petikan sebuah cerita dari kumpulan cerita - cerita kebajikan Swami Sivananda. Semoga bisa menghilhami para pembaca semua.</p>
<p>Pada suatu ketika, sebuah Kaupeen (Hindi, celana dalam) dengan keadaannya yang menjijikkan, digunakan oleh tubuh seseorang. Celana dalam itu tertinggal di Benares. Celana dalam itu tergeletak di pinggir Gangga Ghat. Seorang Sadhu yang mengenakan hanya sebuah celana dalam, baru saja kehilangan celana dalamnya di pinggir sungai Gangga sewaktu mandi, ia melihat ada celana dalam lain tergeletak di pinggir Gangga Ghat.</p>
<p>Karena di sekelilingnya tak seorang pun melihat yang mungkin punya celana dalam itu. Orang Sadhu itu memungutnya dan memakainya, untuk menyelamatkan dirinya dari rasa malu karena ia sendiri dalam keadaan telanjang tidak menggunakan celana dalam.<br />
Celana dalam malang itu merasa sangat bersalah, dapat membungkus bagian vital tubuh yang telah digunakan oleh orang lain sebelumnya. Hampir dua-tiga hari berlalu saat celana dalam menyadari majikan barunya menggunakannya bahkan lebih kejam dari majikan sebelumnya. Sadhu ini tidak memiliki celana dalam cadangan sebagai pengganti, dan memakainya sampai dua puluh empat jam. Pemilik celana dalam sebelumnya hanya memakainya pada hari tertentu. Celana ini bersungut-sungut sendiri: &#8220;Kesalahan apa yang telah aku lakukan! Aku harus mengganti majikanku yang lama. Majikan baruku tidak memberiku satu hari pun untuk istirahat.&#8221;</p>
<p>Mirip dengan seekor kerbau yang muak karena harus bekerja keras membajak sawah pada petak sawah majikannya dari pagi hingga petang. Pada suatu malam, sementara merumput, kerbau itu berlari ke tempat yang agak jauh. Terlihat seorang petani yang mengetahui bahwa kerbau telah melarikan diri dari pemilik sebelumnya, menjadikan dirinya sebagai pemilik baru. Kerbau itu bekerja keras membajak sawah dan mengerjakan pekerjaan lainnya dari pagi sampai malam.</p>
<p>Kerbau itu merenungi dirinya sendiri: &#8220;Ah! Kesalahan apa yang telah aku lakukan sehingga lari dari majikanku yang dulu. Majikanku sebenarnya baik hati dan tak pernah membuat aku bekerja sampai malam, namun majikanku yang sekarang, sangat kejam, membuat aku bekerja dari pagi sampai malam dan memukulku tanpa perasaan dengan cemeti. Aku berharap aku tidak akan meninggalkan majikanku yang dulu.&#8221;</p>
<p>Celana dalam dan kerbau menyadari bahwa tak seorangpun dapat melarikan diri dari permainan, perintah dan rencana Tuhan. Bagi siapa saja yang mencoba untuk melarikan diri akan terbukti sia-sia dan hanya akan menambah kesulitan serta memaksa mengisi peran yang sudah direncanakan. Celana dalam dan kerbau sekarang belajar kebijaksanaan dan berserah diri kepada kehendak Tuhan dan melaksanakan fungsi yang telah diberikan, mengambil semua kesulitan dan ketidaksenangannya bahwa itulah kewajiban telah diberikan.</p>
<p>Seorang tak dapat mengharapkan kondisi ideal yang berlaku di suatu tempat, sementara ia berharap ditemukan kondisi yang ideal. Pikiran akan tergugah sampai menemukan beberapa kekurangan dalam berbagai keadaan berubah, membutuhkan kondisi yang lebih baik. Ini hanyalah tipuan pikiran untuk lagi dari kedisiplinan. Seorang yang berdisiplin membangun semua kondisi ini, menyesuaikannya dengan semua  jenis situasi dan melaksanakan apapun kewajiban yang dikenakan kepadanya. Meskipun sulit, ia melaksanakan beberapa kewajibannya dengan bahagia dan senang hati.</p>
<p>Bhakti yang benar adalah penyerahan diri. Bhakti bukan berarti melakukan Japa,Kirtan atau melakukan pemujaan ritualistik. Seseorang telah berserah diri kepada kehendak Tuhan  dan melakukan karma yang dibagikan dengan tenang, dalam jiwa sebagaimana yang dikehendaki Tuhan atau evolusi cepat. Saat itu seorang berprilaku ini, setiap kesulitan, setiap halangan, menjadi bantuan untuk melanjutkan berjalan pada jalan evolusi. Seorang bhakta sejati yang telah berserah diri kepada Tuhan, tidak ada tugas yang sulit, tidak ada tugas yang baru, tidak ada kerja yang terhalangi  pada jalan kemajuan rohani. Segala sesuatu mengetahui memuja Tuhan dan mengisi kehendak Tuhan. Oleh karena itu, peliharalah kesadaran kepada Tuhan setiap saat.|</p>
<p>Yoga yang sesungguhnya adalah memelihara kesadaran Tuhan setiap saat. Bukan di Uttarkisa atau Gangotri atau setiap tempat yang lebih tinggi di Himalaya. Dalam pemahaman yang benar segala sesuatunya adalah Tuhan dan semua pekerjaannya adalah pemujaan yang suci. Banyak Murid meinggalkan dunia dan menuju Rsikes untuk mengasingkan diri. </p>
<p>Untuk sementara mereka meninggalkan tempat dan mecari tempat pengasingan yang lebih tinggi seperti di Himalaya, Uttarkasi dan Gangotri. Akhirnya mereka sama sekali tidak menemukan tempat dimana - mana.<br />
Bahkan Uttarkasi dan Gangotri seorang harus pergi untuk meminta sedekah. Seorang harus menciptakan pengasingan diri dimanapun ia tinggal. Pengasingan diri hampir tidak mungkin di bumi ini. Pengasingan fisik akan sia-sia apabila tidak digandeng dengan pengasingan mental. Para murid tidak membuat kemajuan rohani dengan berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Ini seperti sebuah batu yang hanya menumpuk lumut. Itu akan merusak kesehatanmmu, akhirnya seperti celana dalam dan kerbau, mereka menyadari kedunguannnya dengan meninggalkan tempat dimana Tuhan telah bersemanyam di dalamnya, hanya untuk mencari hal yang lebih baik.</p>
<p>Beradaptasilah, kemudian sesuaikan dan diakomodasi. Semoga bermanfaat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sucimadri.com/?feed=rss2&amp;p=44</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Main Futsal Yukk..</title>
		<link>http://sucimadri.com/?p=25</link>
		<comments>http://sucimadri.com/?p=25#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Apr 2009 09:13:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Celotehku]]></category>

		<category><![CDATA[D gol]]></category>

		<category><![CDATA[denpasar]]></category>

		<category><![CDATA[futsal]]></category>

		<category><![CDATA[Imam bonjol]]></category>

		<category><![CDATA[sepakbola]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sucimadri.com/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[Holla..
Tak terasa empat bulan lebih telah berlalu, sejak terakhir kali saya posting artikel di blog ini.. Kesibukan kerja dan ngurus keluarga harus menjadi kambing hitam atas kondisi ini  
Di tengah kesibukan akan aktivitas sehari - hari, ada satu rutinitas yang mulai tekun saya jalani bersama teman teman sehobi.. apalagi kalo bukan main sepakbola alias [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Holla..</p>
<p>Tak terasa empat bulan lebih telah berlalu, sejak terakhir kali saya posting artikel di blog ini.. Kesibukan kerja dan ngurus keluarga harus menjadi kambing hitam atas kondisi ini <img src='http://sucimadri.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Di tengah kesibukan akan aktivitas sehari - hari, ada satu rutinitas yang mulai tekun saya jalani bersama teman teman sehobi.. apalagi kalo bukan main sepakbola alias Futsal&#8230;</p>
<p>Bagi para penggemar bola, bermain bola tentu bisa menjadi sarana untuk melepaskan kepenatan pikiran karena seminggu otak dan energi terkuras untuk menyelesaikan deadline.</p>
<p>Main Futsal sendiri kami jadwalkan setiap hari sabtu jam 10 pagi di D Gol Futsal Imam Bonjol. Anggota tetapnya adalah teman - teman kantor dan sahabat - sahabat di masa lalu. Jadi sekalian nyari keringat kita juga bisa reunian, sambil bertukar cerita dan mengenang masa lalu&#8230; he..he..</p>
<p><img class="image size-medium wp-image-29" title="futsal01" src="http://sucimadri.com/wp-content/uploads/2009/04/futsal01-300x225.jpg" alt="futsal01" width="300" height="225" />Bagi para sahabat yang ingin ikutan main futsal ato ingin berlatih tanding, bolehlah hubungi saya di nomor 081 8055 98875. Sekalian cari keringat sekalian juga cari teman baru, seru juga kan?</p>
<p>Bagi yang ingin dapat informasi lengkap tentang harga dan lain lain, boleh langsung hubungi<br />
D Gol Futsal Bali<br />
Jalan Imam Bonjol Denpasar<br />
Tel. 0361 481820</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sucimadri.com/?feed=rss2&amp;p=25</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Tempat Duduk Yang Ajaib</title>
		<link>http://sucimadri.com/?p=23</link>
		<comments>http://sucimadri.com/?p=23#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Dec 2008 15:02:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cerita Kebajikan]]></category>

		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sucimadri.com/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[(Taken From “Inspiring Stories Swami Sivananda” )
Pada suatu ketika hiduplah seorang pria tua di kaki Bukit Vidhya. Namanya Vittal Jadhao. Ia sangat miskin dan tidak memiliki apa-apa kecuali sebuah gubuk alang-alang. Ia sangat malas dan karenanya hidupnya menderita.
Vittal Jadhao telah mendengar orang Sadhus memiliki kesidian (Siddhi atau Kekuatan Yoga) yang dapat menciptakan banyak benda menurut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>(Taken From “Inspiring Stories Swami Sivananda” )</strong></em></p>
<p>Pada suatu ketika hiduplah seorang pria tua di kaki Bukit Vidhya. Namanya Vittal Jadhao. Ia sangat miskin dan tidak memiliki apa-apa kecuali sebuah gubuk alang-alang. Ia sangat malas dan karenanya hidupnya menderita.</p>
<p>Vittal Jadhao telah mendengar orang Sadhus memiliki kesidian (Siddhi atau Kekuatan Yoga) yang dapat menciptakan banyak benda menurut keinginannya. Pada suatu hari, ia sedang memikirkan sebuah rencana untuk hidup tanpa bekerja apapun, hal ini terus mendesak pikirannya dan memikirkan apabila pergi ke gua Bukit Vidhya ia akan bertemu dengan seorang Sadhu dan mendapatkan apa yang diinginkan. Dengan maksud ini ia berjalan menuju gua.</p>
<p>Setelah berjalan dengan jarak yang cukup jauh ia bertemu dengan seorang Sadhu. ia bersujud dihadapannya. Sadhu ia menjamunya dengan senang hati dan menanyakan maksud kedatangannya.</p>
<p>Vittal Jadhao berkata, &#8220;Guruji yang aku hormati, Aku pria yang sangat miskin. Kecuali sebuah gubuk alang-alang, aku tidak memiliki apa-apa. Dalam umur yang sudah tua begini aku tidak dapat bekerja dan tidak memiliki penghasilan apa-apa. Mohon bantulah aku memberi beberapa kekayaan. Aku tahu pasti bahwa engkau dapat menciptakan uang sebanyak yang enkau inginkan melalui kekuatan Yogamu.&#8221;</p>
<p>Yogi itu terdiam sejenak. Pria tua ini mendesak dan mengulang-ulang permintaannya. Sadhu itu, akhirnya memberikan sebuah tempat duduk ajaib, dengan mengatakan kapanpun ia menginginkan sesuatu ia harus duduk di atas tempat duduk ajaib setelah mencuci tangan, kaki dan mukanya, serta memikirkan apa yang dikehendakinya. Apapun yang masuk di dalam pikirannya semua akan terwujud. Oleh karena itu ia memperoleh segalanya tanpa berusaha.</p>
<p>Pria tua itu mengucapkan banyak terima kasih dengan senang hati dan mengambil tempat duduk ajaib itu, berjalan dengan cepat ke rumahnya. Ia tidak ingin membuang waktu dan segera mencuci mukannya dan duduk di atas tempat duduk. Ketika ia merasa lapar, pertama-tama ia memikirkan makanan. Segera saja sejumlah makanan yang sangat banyak dengan berbagai makanan lezat muncul di hadapannya. Ia makan sepuasnya. Lalu ia ingin istirahat, begitu memikirkan sebuah kasur, di depannya sudah ada sebuah dipan kasur dengan bantal sutra. Ia istirahat sejenak namun pikirannya terus gelisah.</p>
<p>Ia terbangun dari tempat tidurnya dan kembali duduk di tempat duduk ajaib. Sekarang ia ingin gubuknya diganti menjadi sebuah istana besar. Hanya dalam sekejap  saja, gubuk alang-alangnya telah berubah menjadi sebuah istana yang megah nan indah. Ia sangat menyenangi istananya.  Bahkan ia berpikir bahwa sebuah istana besar akan tidak berguna tanpa sejumlah kekayaan. Segera saja satu tas penuh emas, perak dan berlian ada di kakinya. Sekarang kegembiaraan pria itu tanpa batas. Namum ia membutuhkan beberapa pembantu untuk melayaninya. Mereka juga muncul dan berdiri dengan tangan tercakup di depannya.</p>
<p>Pria tua itu sangat senang, namun ah! Pikirannya terlintas apabila ada gempa bumi maka apa yang akan terjadi padanya. Tiba-tiba gempa bumi sangat besar memporak-porandakan istananya serta pria dan pembantunya tersapu angin dahsyat.</p>
<p>Keinginan adalah hambatan terbesar, halangan terbesar pada jalan kesadaran diri.</p>
<p><strong>Mengendalikan pikiran sesungguhnya alat untuk mengendalikan keinginan. Bila seorang ingin mendisiplinkan pikiran dengan sempurana seseorang harus melenyapkan semua keinginan tanpa ada sisa.</strong></p>
<p>Semua objek duniawi dan menara gading harus disingkirkan. Pikiran monyet selalu gelisah, menginginkan sesuatu atau hal lainnya. Seperti ikan yang diambil dari air dan mencoba masuk ke dalam air dengan berbagai alat atau dengan cara lainnya, pikiran juga selalu gelisah dan akan membawa pikiran jahat. Dengan membunuh segala keinginan yang terus gelisah, kendalikan pikiran dan emosi seseorang agar mencapai satu pemusatan.</p>
<p>Pikiran harus dibebasakan dari segala emosi yang mendesak dan gelembung-gelembung pikiran sebelum seseorang mencapai tahap konsentrasi. Sebuah pikiran akan setenang sebuah lampu dalam sebuah istana yang tiada berangin. Seorang yang mencapai keadaan pikiran akan mampu bermeditasi untuk waktu yang lama. Meditasi akan muncul dengan sendirinya.</p>
<p>Bila seorang mengijinkan pikirannya berlari menuju hal bersifat keduniawian menurut keinginannya, dan mendesak pikiran yang tidak suci dan keinginan jahat, seseorang pasti akan menemui kerusakan dan berakhir.</p>
<p>Oleh karena itu, lenyapkanlah segala keinginan. Selalu miliki gagasan mencapai Mahluk Tertinggi, tempat bersemayamnya sekala kenitmatan, kedamaian, kebahagian dan keabadian. Lakukan Sadhana dengan sungguh-sungguh. Berlatihlah dengan teratur melalui yogamu. Berusahalah mencapai tujuan hidup dalam kelahiran ini. Engkau akan mencapai kebahagiaan selamanya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sucimadri.com/?feed=rss2&amp;p=23</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Cinta Kasih Guru</title>
		<link>http://sucimadri.com/?p=21</link>
		<comments>http://sucimadri.com/?p=21#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Nov 2008 09:50:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cerita Kebajikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sucimadri.com/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[(Taken From &#8220;Inspiring Stories Swami Sivananda&#8221; )
&#8220;Guru, betapapun kuatnya aku mencoba mengendalikan pikiranku yang selalu mengembara menuju kenikmatan dunia maya ini. Sering aku berpikir meninggalkanmu tanpa terlebih dahulu memberitahukanmu. Namun cinta kasihku pada kaki padmamu mencegahku melakukan langkah semacam itu. Guru, apa yang harus aku lakukan? Tolong tuntunlah aku&#8221;,Rama terus memohon ampun atas kesalahannya kepada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>(Taken From &#8220;Inspiring Stories Swami Sivananda&#8221; )</strong></em></p>
<p>&#8220;Guru, betapapun kuatnya aku mencoba mengendalikan pikiranku yang selalu mengembara menuju kenikmatan dunia maya ini. Sering aku berpikir meninggalkanmu tanpa terlebih dahulu memberitahukanmu. Namun cinta kasihku pada kaki padmamu mencegahku melakukan langkah semacam itu. Guru, apa yang harus aku lakukan? Tolong tuntunlah aku&#8221;,Rama terus memohon ampun atas kesalahannya kepada gurunya, Premananda. Itu dilakukan baru sebulan saja sejak ia memasuki Asrama gurunya.</p>
<p>&#8220;Nak, aku telah menyaksikanmu, dengan perjuangan berat. Mengendalikan keinginan dengan begitu kuat adalah sulit untuk ditaklukkan. Janganlah takut. Kembalilah ke duniamu. Tuntunlah agar hidupmu sebagai kepala rumah tangga selama beberapa lama dan puaskan pikiranmu dengan sepuas-puasnya. Namun tetaplah menjaga pikiranmu pada kaki Padma Tuhan. Jangan sampai kehilangan arah tujuanmu. Kembalilah setelah sepuluh tahun. Jangan tinggal lebih lama lagi!</p>
<p>Rama meninggalkan gurunya. Ia kembali ke rumahnya di kota, menikah dan membangun hidup berkeluarga. Ia telah melayani gurunya dengan sepenuh hati, dan memperoleh rahmat gurunya. Sukses telah diambang pintu. Segera saja di kota Rama menjadi kaya raya, dengan istri yang sangat dicintainya dan anak-anak kesayangannya.</p>
<p>Sepuluh tahun telah berlalu.</p>
<p>Seorang pengemis tua berdiri di depan bungalow Rama. Anak-anaknya berlari ketakutan. Istri Rama melihat kejahatan pada diri orang Sadhu tersebut. Sadhu ini sama sekali tidak bergeser dan ingin menemui tuan rumahnya. Rama melihat gurunya yang sudah tua dan mempersilahkan duduk.</p>
<p>&#8220;Baiklah Rama, sepuluh tahun telah berlalu. Telahkah engkau memuaskan dirimu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku telah menikmati semua kesenangan duniawi yang aku persembahkan kepadamu, Gurudev. Aku dapat meninggalkan kesenanganku sendiri untuk mengikuti pendidikan Asrammu. Namun bagaimana aku dapat meninggalkan anak-anakku yang masih kecil tanpa peduli padanya? Tolong ijinkanaku tinggal beberapa tahun lagi, mendidiknya dan melihat mereka membangun hidupnya. Tentu nanti aku akan mengikutimu&#8221;</p>
<p>Sepuluh tahun lewat.</p>
<p>Kali ini Rama yang sudah jompo menyapa gurunya, Sadhu. Istrinya sudah pergi meninggalkan dunia maya ini. Anak-anaknya sudah tumbuh dewasa dengan keluarganya masing-masing.</p>
<p>&#8220;Guruku yang kukasihi&#8221;, Kata Rama, &#8220;Memang benar aku telah mengisi kewajibanku sebagai kepala rumah tangga. Semua anak-anakku sekarang tumbuh dewasa dan hidup berkecukupan. Tapi mereka masih terlalu muda. Mereka sedang tenggelam dalam kehidupan duniawi. Mereka sama sekali tidak punya rasa tanggung jawab. Mereka sia-sia mengatasi semua kekayaan yang diperoleh serta kekayaan ayahnya dan mereka sedang lapar.<br />
Aku harus merencanakan pengeluaran keluarganya dan menuntun perilakunya. Tolong ijinkan aku untuk tetap disini selama beberapa tahun lagi sampai mereka benar-benar tumbuh menjadi manusia dewasa dan bertanggungjawab terhadap keluarganya. Pasti aku akan meninggalkannya dan bersamamu di Asram.&#8221;</p>
<p>Sepuluh tahun berlalu setelahnya.</p>
<p>Sadhu, Premananda, kembali ke rumah Rama untuk menengok muridnya.<br />
Seekor anjing menjaga pintunya. Sadhu Premananda menyaksikannya, bahwa itu adalah Rama. Premananda masuk ke dalam rumah Rama tua yang sudah wafat sejak beberapa tahun lalu. Ketertarikannya dengan keluarga menyebabkan ia lahir sebagai seekor anjing yang menjaga rumah dan anak-anaknya. Rama masuk ke dalam jiwa anjing itu.</p>
<p>&#8220;Baiklah sekarang, anakku, apakah engkau siap mengikutiku?&#8221; anjing-Rama, &#8220;Anak-anakku sekarang di puncak keberuntungannya dan kekayaannya. Namu mereka memiliki banyak musuh yang iri hati. Dalam beberapa tahun mereka akan terbebas dari ketakutan dan kesangsian. Lalu aku akan berlari menuju Asrammu.&#8221;</p>
<p>Sepuluh tahun telah lewat.</p>
<p>Sadhu kembali ke rumah Rama. Anjingnya juga telah mati.<br />
Sadhu Premananda menyaksikan melalui mata batinnya bahwa Rama, telah menjelma menjadi seekor ular kobra yang mematikan (beracun) dan menjaga gardu listrik di rumahnya. Premananda berpikir bahwa waktu telah tiba untuk mengirim muridnya dari pengaruh maya.</p>
<p>&#8220;Anak-anakku,&#8221; ia bicara pada cucu Rama, &#8220;Ada seekor kobra yang mematikan di sekitar gardu listrik ini. Itu ular yang sangat liar. Tolong pindahkan dari sana. Tapi jangan dibunuhya. Berikan pukulan ringan, pukul punggungnya dan bawalah kemari.&#8221;</p>
<p>Anak muda itu sangat terkejut mendengar kata-kata orang Sadhu itu dengan benar. Ia mengumpulkan anak muda keluarga masing-masing dan mulai memburu kobra. Sebagaimana diperintahkan oleh Sadhu, mereka tidak membunuh kobranya, namun hanya melukainya saja sehingga ular kobra itu tidak bisa bergerak. Sadhu Premananda dengan rendah hati mengusap-usap kepala dan lehernya, melilitkannya di bahunya, dan meninggalkan cucu-cucu Rama. Mereka sangat senang atas keselamatan yang dilakukan Sadhu Premananda secara ajaib dari ular kobra yang beracun.</p>
<p>Dalam perjalanannya Sadhu itu berbicara kepada kobra itu: &#8220;Anakku Rama! Tak seorangpun mampu memuaskan indria dan pikirannya. Cengkraman pikiran itu sangatlah kuat dan tidak akan pernah merasa dipuaskan. Sebelum hilang dari benih lainnya. Dapat membedakan itulah yang menjadi pelindungmu. Bangunlah! Minimal dalam kelahiranmu yang akan datang Engkau harus mencapai yang teringgi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Gurudev!&#8221; Rama menangis dengan getirnya. &#8220;Betapa mulianya hatimu! Meskipun aku terbukti tidak tahu rasa berterimakasih padamu, Engkau selalu ramah mengikutiku dan tidak pernah melepaskan pandanganmu padaku, Engkau telah menuntunku kembali ke kaki Padmamu. Tentu tidak ada orang lain lagi di dunia ini yang dapat memenuhi cinta kasih dari seorang guru sepertimu. Tidak ada cinta kasih sejati yang mementingkan diri sendiri kecuali antara seorang Guru sejati dan muridnya.&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sucimadri.com/?feed=rss2&amp;p=21</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>BIBI ANU</title>
		<link>http://sucimadri.com/?p=19</link>
		<comments>http://sucimadri.com/?p=19#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Nov 2008 14:10:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Bali Life Stories]]></category>

		<category><![CDATA[]]></category>

		<category><![CDATA[bibi anu]]></category>

		<category><![CDATA[laskar pelangi]]></category>

		<category><![CDATA[superstar]]></category>

		<category><![CDATA[tembang bali]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sucimadri.com/?p=19</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Bibi anu
Lamun payu luas mandus
Antenge tekekang
Yatnain ngaba Mesui
Tiuk puntul, bawang anggen sesikepan&#8221; 
Sebuah tembang Bali &#8216;tua&#8217; yang hampir terlupakan oleh masyarakat Bali saat ini. Kenapa &#8216;tua&#8217;? ya karena keberadaannya mungkin sudah ratuan taun. Dan kenapa &#8216;hampir terlupakan&#8217;? ya karena nyatanya, orang tua
saja banyak yang lupa atau tidak tau syairnya apalagi generasi muda, yang sehari - [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Bibi anu<br />
Lamun payu luas mandus<br />
Antenge tekekang<br />
Yatnain ngaba Mesui<br />
Tiuk puntul, bawang anggen sesikepan&#8221; </p>
<p>Sebuah tembang Bali &#8216;tua&#8217; yang hampir terlupakan oleh masyarakat Bali saat ini. Kenapa &#8216;tua&#8217;? ya karena keberadaannya mungkin sudah ratuan taun. Dan kenapa &#8216;hampir terlupakan&#8217;? ya karena nyatanya, orang tua<br />
saja banyak yang lupa atau tidak tau syairnya apalagi generasi muda, yang sehari - hari disuguhkan lagu - lagu populer saat ini macam Laskar Pelangi - Nidji, Superstar - Project Pop dan lainnya.</p>
<p>Padahal kalo kita cermati ada kandungan nilai filosofi dan pesan moral yang dalam banget yang bisa dipakai bekal dalam menjalani kehidupan ini.</p>
<p>BTW, Kenapa saya tertarik mengangkat tema Bibi Anu ini sebagai artikel? Itu karena sekarang ini setiap kali ayah mertua meninabobokan putra kami, tembang Bibi Anu inilah yang berkumandang dalam kemasan pupuh pucung.</p>
<p>Sekilas terdengar memanglah sebuah tembang lagu dengan syair yang sederhana, tetapi setelah menonton Wayang Cenk Blong dimana tembang Bibi Anu ini dibahas, barulah saya sadari alangkah indah pesan yang tersirat, yang<br />
ingin disampaikan sang pencipta lewat baris - baris sederhana Bibi Anu tersebut.</p>
<p>Kurang lebih inilah makna yang terkandung yang saya kutipkan dari pelakonan wayang Ceng Blonk (lupa judulnya apaan <img src='http://sucimadri.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> )</p>
<p>  <strong>Bibi anu lamun payu luas mandus</strong><br />
(Pesan ibu kalo jadi pergi mandi)<br />
Yang dimaksud mandi disini adalah pergi mencari kesucian</p>
<p><strong>Antenge tekekang</strong><br />
(giatlah berusaha)<br />
Berusaha setiap saat secara konsisten, ingatlah Tuhan selalu, jangan hanya ingat di kala susah saja.</p>
<p><strong>Yatnanin ngaba masui</strong><br />
(waspada membawa musuh)<br />
kenapa membawa musuh? karena musuh kita sesungguhnya adalah sifat negatif (indriya) dalam diri sendiri. Jadi selama masih hidup sifat2 itu akan terus mempengaruhi prilaku kita, maka waspadalah!</p>
<p><strong>Tiuk puntul bawang anggen sesikepan</strong><br />
(pisau tumpul, bawang pake senjata)<br />
setiap orang terlahir sebagai orang bodoh, tidak tau apa (awidya) layaknya pisau yang tumpul, maka bawa/wibawa yang harus dipakai senjata, bagaimana mendapatkan wibawa itu? dasarnya adalah dengan kesucian hati dan pikiran.</p>
<p>Mantap kan pesannya?</p>
<p>Kalo boleh saya simpulkan, yang bisa kita petik dari syair Bibi Anu ini adalah Kalo ingin mencapai kesucian (dalam hal ini tujuan hidup apapun cita - cita kita), hendaknya senantiasa bisa mengendalikan diri (karena musuh terberat selalu ada pada diri sendiri) dan utamakan budi perkerti / wibawa sebagai bekal mencapai tujuan itu.</p>
<p>Semoga bermanfaat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sucimadri.com/?feed=rss2&amp;p=19</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Jelang Eksekusi Mati Amrozi Cs.</title>
		<link>http://sucimadri.com/?p=17</link>
		<comments>http://sucimadri.com/?p=17#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Nov 2008 07:36:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Celotehku]]></category>

		<category><![CDATA[amrozi]]></category>

		<category><![CDATA[eksekusi mati]]></category>

		<category><![CDATA[kafir]]></category>

		<category><![CDATA[karmaphala]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sucimadri.com/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[Satu berita yang paling ditunggu - tunggu seluruh masyarakat Bali dan tentunya masyarakat dunia baik yang warganya menjadi korban ataupun tidak dalam ledakan bom di Kuta 12 Oktober 2002 lalu yang menelan 200 orang lebih korban meninggal adalah eksekusi mati Amrozi dan kawan - kawan.
Yang menggelitik saya untuk ikut menuangkan isi hati di blog ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Satu berita yang paling ditunggu - tunggu seluruh masyarakat Bali dan tentunya masyarakat dunia baik yang warganya menjadi korban ataupun tidak dalam ledakan bom di Kuta 12 Oktober 2002 lalu yang menelan 200 orang lebih korban meninggal adalah eksekusi mati Amrozi dan kawan - kawan.</p>
<p>Yang menggelitik saya untuk ikut menuangkan isi hati di blog ini adalah pro dan kontra yang berkembang di masyarakat Indonesia mengenai eksekusi mati ini.<br />
Bagi saya pribadi hukuman mati adalah hukuman yang paling pantas untuk sebuah aksi brutal dan gila apalagi mengatasnamakan Tuhan dan agama untuk membantai orang - orang yang tidak berdosa.</p>
<p>Bukankah sesungguhnya semua ajaran agama mengajarkan hal yang sama: cinta kasih, kebajikan dan semua perbuatan untuk menciptakan perdamaian?</p>
<p>Dalih Jihad untuk menumpas bangsa Kafir menurut saya adalah sebuah alasan yang diambil karena didasari oleh pemikiran yang sangat dangkal.<br />
Apakah setelah membantai ratusan orang yang tak berdosa otomatis akan membukakan pintu sorga baginya kelak setelah meninggal?</p>
<p>Menurut anda, apa dan siapakah bangsa kafir itu? apakah bangsa kafir bisa dikelompokkan secara fisik berdasarkan warna kulit, warna rambut atau berdasarkan suku bangsa? atau kafir hanya sebuah istilah bagi mereka yang menentang jalan Tuhan?</p>
<p>Berdasarkan <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kafir" title="Kafir" target="_blank"><strong>wikipedia</strong></a>, <strong>Kafir (berasal dari bahasa Arab kāfir; plural kuffār) secara harfiah berarti orang yang menyembunyikan atau mengingkari kebenaran. Dalam terminologi kultural kata ini digunakan dalam agama Islam untuk merujuk kepada non muslim atau kepada muslim yang mengingkari nikmat Allah (sebagai lawan dari kata syakir, yang berarti orang yang bersyukur).</strong></p>
<p>Kalo pengertian tersebut di atas tidak dipahami secara sungguh - sungguh maka perdamaian di dunia ini tidak akan pernah terwujud karena orang - orang seperti Amrozi cs menggunakan jalan kekerasan berdasarkan pembenaran mereka sendiri dengan mengatasnamakan Tuhan dan agama. Bukankan itu sebuah perbuatan Kafir? (maling teriak maling dong!)</p>
<p>Banyak pihak menentang hukuman mati ini dengan alasan eksekusi yang akan dilakukan pada Amrozi cs dapat dinilai sebagai upaya pembunuhan berencana dan keluarga amrozi cs. sendiri akan menuntut baik dunia dan akhirat. (<a href="http://www.detiknews.com/read/2008/07/31/143538/980712/10/keluarga-amrozi-cs-akan-tuntut-kejagung-dunia-dan-akhirat" title="Amrozi cs" target="_blank"><strong>detiknews.com</strong></a>)<br />
Wow, kembali lagi sebuah pernyataan berdasar atas pembenaran sendiri. (Apakah mereka pernah punya niat untuk memikirkan perasaan orang - orang yang dirugikan secara jiwa, fisik dan psikologi karena aksi amrozi cs?)</p>
<p>Kita doakan saja semoga bumi nusantara ini semakin jaya, dengan ketegasan para penegak hukum untuk menerapkan hukum yang seadil - adilnya. Sehingga kepercayaan masyarakan Indonesia dan masyarakat dunia terhadap pemerintah kita semakin tinggi.<br />
Semoga suatu saat nanti Tuhan mengirimkan seorang tokoh agama yang benar - benar didengar dan dituruti, yang dapat memberikan kebenaran sejati akan nilai - nilai ajaran agama sehingga tak ada lagi umat yang menggunakan cara brutal dan gila dengan pembenaran pribadi untuk menyakiti umat yang lain.</p>
<p>Satu pesan penutup: Karma yang baik selalu akan menghadirkan phala yang nikmat, begitu sebaliknya.</p>
<p>Peace!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sucimadri.com/?feed=rss2&amp;p=17</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Elegy Sang Desainer</title>
		<link>http://sucimadri.com/?p=16</link>
		<comments>http://sucimadri.com/?p=16#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Oct 2008 13:13:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Celotehku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sucimadri.com/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[(untuk sahabatku, sang designer sejati)
Jerat rutinitas semakin menguat
Deadline tiada ada kata akhir
Jiwa kreativitas seperti terbelenggu
Terus berontak untuk sebuah kata &#8220;idealisme&#8221;
Tembok dualisme semakin meninggi
Membentang kokoh diantara idealisme dan materi
Dedikasi dan loyalitas sekedar basa basi
Sahabat datang dan pergi bahkan tak pernah kembali
Hanya diri sendiri yang bisa memotivasi
Untuk mencapai kebebasan suatu saat nanti
Ooh..
Elegy hanya sebuah syair kesedihan
Bukan tragedi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>(untuk sahabatku, sang designer sejati)</p>
<p>Jerat rutinitas semakin menguat<br />
Deadline tiada ada kata akhir<br />
Jiwa kreativitas seperti terbelenggu<br />
Terus berontak untuk sebuah kata &#8220;idealisme&#8221;</p>
<p>Tembok dualisme semakin meninggi<br />
Membentang kokoh diantara idealisme dan materi<br />
Dedikasi dan loyalitas sekedar basa basi</p>
<p>Sahabat datang dan pergi bahkan tak pernah kembali<br />
Hanya diri sendiri yang bisa memotivasi<br />
Untuk mencapai kebebasan suatu saat nanti</p>
<p>Ooh..<br />
Elegy hanya sebuah syair kesedihan<br />
Bukan tragedi yang harus ditangisi<br />
Gerakkan terus mouse-mu, Kawan!<br />
Hingga sampe akhir nanti Idealisme itu kau dapati</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sucimadri.com/?feed=rss2&amp;p=16</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Upacara Tutug Kambuhan</title>
		<link>http://sucimadri.com/?p=13</link>
		<comments>http://sucimadri.com/?p=13#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Oct 2008 12:03:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Keluarga Kecilku]]></category>

		<category><![CDATA[Byakala]]></category>

		<category><![CDATA[Kambuhan]]></category>

		<category><![CDATA[Mala]]></category>

		<category><![CDATA[Natab]]></category>

		<category><![CDATA[Tutug Kambuhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sucimadri.com/?p=13</guid>
		<description><![CDATA[Sudah 42 hari sejak saat - saat menegangkan kelahiran si kecil berlalu. Dan kemaren tepat pada hari Soma Wage Tambir, kami mengadakan upacara 42 hari Gus Wisnu. Di Bali upacara ini biasanya disebut dengan Upacara Kambuhan atau Tutug kambuhan.
Menurut beberapa sumber, tujuan dari upacara Tutug kambuhan ini adalah untuk pembersihan lahir bathin si bayi dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah 42 hari sejak saat - saat menegangkan kelahiran si kecil berlalu. Dan kemaren tepat pada hari Soma Wage Tambir, kami mengadakan upacara 42 hari Gus Wisnu. Di Bali upacara ini biasanya disebut dengan Upacara Kambuhan atau Tutug kambuhan.</p>
<p>Menurut beberapa sumber, tujuan dari upacara Tutug kambuhan ini adalah untuk pembersihan lahir bathin si bayi dan ibunya, disamping juga untuk membebaskan si bayi dari pengeruh - pengaruh negatif (Mala).</p>
<p>Di beberapa daerah, biasanya setelah upacara Tutug Kambuhan ini orang tua si bayi sudah boleh masuk ke tempat - tempat suci (Merajan atau Pura) untuk melakukan persembahyangan.</p>
<p>Acara sedikit molor dari yang direncanakan berhubung perlu waktu tambahan untuk memastikan semua bebantenan lengkap. Akhirnya  sekitar pukul 15.45 WITA rangkaian upacara pun dimulai. (Kasian Bu Aris, Gusnik dan Gek Lia tidak sempat liat adik Visnu natab berhubung harus buru - buru balik ke Denpasar untuk kembali ke tempat kerja masing - masing ~ Anyway, Thanks for coming dan juga kadonya ya <img src='http://sucimadri.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> ~ )</p>
<p>Tuaji Mangku mengawali rangkaian upcara dengan menghaturkan puja - puja, nganteb bebanten dll. Kemudian dilanjutkan dengan melukat seluruh bangunan dan perangkat upacara oleh beberapa sanak famili.<br />
<img src="http://sucimadri.com/wp-content/uploads/2008/10/ayab1.jpg" alt="Melukat Prascita" class="image" /></p>
<p>Upacara dilanjutkan dengan upacara pebyakaonan (byakala) saya dan istri (orang tua bayi) untuk pembersihan lahir dan bathin juga menghilangkan segala bentuk pengaruh - pengaruh negatif. Acara berlanjut dengan kami bertiga dilukat dan natab.<br />
<img src="http://sucimadri.com/wp-content/uploads/2008/10/bia-kala1.jpg" alt="Byakala" class="image" /></p>
<p>Pada sesi acara Natab, ini dilakukan dalam 2 tahap. Yang pertama bertempat di natar/halaman rumah berupa banten pecolongan, banten kumara, dapetan dll. Selesai natab di bawah, kami digiring untuk natab di bale. Masih dipimpin oleh Aji Mangku, acara natab berlangsung dengan seru karena si kecil lebih memilih tidur daripada menyelesaikan natab, akhirnya semua orang mengganggunya agar terjaga. Acara natab pun terus berlanjut hingga selesai. Dan acara penutup dalam rangkaian upacara Tutug Kambuhan ini adalah melakukan persembahyangan.<br />
<img src="http://sucimadri.com/wp-content/uploads/2008/10/natab1.jpg" alt="Natab" class="image" /></p>
<p>Seperti biasa setelah rangkaian upacara selesai, keseluruhan acara harus diakhiri dengan santap bersama sebelum para semeton budal ke griya dan rumah masing - masing.</p>
<p>Kaping untap (the last but not the least) Suksma majeng ring Aji Mangku lan Ibu, para semeton sami sane sampun ledang ngerauhin lan nyarengin ngantos puput acara. Sampunang lali rauhin titiang malih ring upacara 3 bulan nggih!</p>
<p>Suksama!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sucimadri.com/?feed=rss2&amp;p=13</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
